TIM Ikatan Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) bersama Brimob Polri dan Sub Denpom III/3-4 PWK menghentikan kegiatan penambangan galian C bersifat tanah merah di Wilayah Cilampahan dan Citapen Tempat Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Penambangan tanpa izin dinilai telah menimbulkan kerusakan lingkungan serta infrastruktur.

Selain itu, Awak Gabungan menyegel lahan isyarat Galian C di Cilampahan seluas 18, 7 hektare dan Citapen seluas 13, 2 hektare. Di perut Lokasi tersebut aparat menyembunyikan dua orang penanggung jawab lapangan, serta menyita 5 unit eskavator dan 23 unit dump truk jadi barang bukti.

Pelaku hendak dikenakan pidana yaitu Kausa 98 Ayat (1) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Tata Lingkungan Hidup, dengan intimidasi pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama sepuluh) tarikh dan denda paling kurang Rp3 miliar dan paling banyak Rp. 10 miliar.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum KLHK, Sustyo Iriyono dalam keterangannya, Jumat (12/3) mengatakan pihaknya menjerat pelaku dengan kejahatan berlapis serta mengembangkan serta mencari aktor intelektual & para pelaku lain dengan terlibat.

“Kejahatan lingkungan merupakan kejahatan luar biasa. Apabila ada oknum aparat yang turut bermain dalam kejahatan ini, kami tidak segan-segan menindak tegas sesuai peraturan, ” kata Sustyo.

Ia menambahkan penindakan ini bermula dari pengaduan masyarakat terkait kesibukan penambangan galian tanah illegal yang menimbulkan dampak kebobrokan lingkungan. Aktivitas itu membuat kerusakan lingkungan dan membahayakan kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya.

Sementara itu, Dirjen Penegakan Hukum KLHK Akal Ridho Sani, mengatakan  KLHK tidak akan berhenti menangani tegas pelaku kejahatan lingkungan hidup, termasuk kejahatan profesional illegal yang menimbulkan kerusakan lingkungan. “Kami mengapresiasi pertolongan penuh Polri dan TNI, serta masyarakat dalam proses penindakan tambang ilegal menerbitkan dampak lingkungan di Sukatani ini, ” ungkap Nalar Sani. (OL-15)