LAJU penyaluran virus korona di Jawa Barat diyakini sudah melandai. Salah satunya ditandai dengan berkurangnya jumlah anak obat positif covid-19 yang dirawat pada rumah sakit.

Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Bandung,   Senin (1/6). Gubernur yang akrab dengan panggilan Ujung Emil ini  mencontohkan, Rumah Lara Hasan Sadikin (RSHS) Bandung telah siap membuka kembali layanan kesehatan tubuh noncovid-19 bagi  masyarakat.

Pasalnya, penanganan Covid-19 di RSHS dinilai sudah betul terkendali dengan penurunan pasien yang signifikan. Menurut oganisasi kesehatan  dunia (WHO), lanjut Kang Emil, pengembangan kapasitas dan fasilitas layanan kesehatan tubuh menjadi syarat penerapan adaptasi etiket baru (AKB) atau pola tumbuh normal baru (new normal).

“Jumlah anak obat covid-19 di ruang isolasi dengan pernah mencapai 100%, turun tenggat menjadi 20%. Selain itu tingkat kesembuhan yang tinggi, ” cakap Kang Emil.

Menurutnya, dari 300-an penderita yang sempat dirawat di RSHS, kini tersisa sekitar 14 orang yang masih dirawat di bagian isolasi. “Artinya pasien-pasien yang sehat sudah sangat banyak, ” ucapnya.

Selain itu, kesiapan RSHS membuka layanan kesehatan noncovid-19 pun ditunjukkan secara hasil pengetesan terhadap seluruh pegawai dan dokter yang hasilnya adalah seluruh karyawan dan dokter tersebut bebas virus tersebut. Menurut Kang Emil, tiga ribu karyawan sudah dites dan hingga Minggu (31/5) tidak ada yang terpapar covid-19 sehingga menjadi salah satu vila sakit yang paling aman pada Jawa Barat.

Meski begitu, Emil tahu warga untuk tetap menerapkan adat kesehatan seperti memakai masker serta menjaga jarak aman. Penerapan contoh hidup normal baru tidak dan merta diiringi dengan kebebasan untuk warganya.

Sebagai contoh, menurutnya pembukaan wadah ibadah hanya berlaku di wilayah yang masuk ke dalam zona biru. “AKB rumah ibadah tidak berlaku untuk seluruh daerah, cuma mereka yang secara ilmiah masuk daerah terkendali atau zona ningrat, ” ucapnya.

Pelaksanaan pola hidup lazim baru di tempat ibadah dibatasi pada lokasi yang lingkungannya kecil. “Sedangkan rumah ibadah besar yang umum tidak dibuka terlebih awal, untuk menghindari penyebaran virus daripada pengunjung luar, ” ujarnya. (R-1)