PENDEKATAN kearifan lokal dipakai oleh Polda Bali dalam menanangani aktivitas demo penolakan Omnibus Law UNDANG-UNDANG Cipta Kerja. Seperti demo dengan berlangsung di depan kampus Udayana, Kamis (24/10), Polda Bali membawa pecalang di bagian depan berhubungan polwan.  

“Bukan karakter orang Bali untuk bertindak anarkis. Untuk tersebut kami menempatkan pecalang sebagi wujud kearifan lokal Bali dalam mengikhtiarkan demo. Kami tidak ingin bertindak represif terhadap mahasiswa di Bali yang melakukan demo, ” sirih Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reihard Golose, Kamis (22/10).

“Ini bertambah baik. Mungkin yang demo tersebut banyak di antaranya adalah teman-temannya sendiri. Inilah bedanya Bali secara daerah lainnya di Indonesia. Tak ada tindakan anarkis sehingga tidak ada tindakan represif dari anggota. Tadi juga banyak anggota Brimob Polda Bali yang menyanyi jadi tidak ada tindakan represif, ” ujarnya.  

Ia juga memuji serta berterima kasih kepada mahasiswa di Bali yang membubarkan diri secara tertib sebelum pukul 18. 00 Wita sesuai dengan aturan yang berlaku. Para mahasiswa juga tidak ada aksi anarkis dan betul kooperatif.

baca juga:   Lagi-lagi, Aksi Anarkistis di Makassar, Jawatan NasDem Jadi Korban

Kapolda Bali juga menegaskan, setelah sukses penanganan aksi demo, ia juga mau melakukan patroli besar-besaran di segenap Bali dengan melibatkan  semua bagian terkait. Tujuannya agar Bali tetap aman dan nyaman dikunjungi sebagai destinasi wisata dunia. Hal tersebut penting karena saat ini Bali sedang  terpuruk ekonominya akibat pandemi Covid19 yang melanda dunia.  

“Pertumbuhan ekonomi masih minus, pariwisata sedang sepi, jangan sampai diganggu sedang dengan situasi keamanan yang tak kondusif. Ini yang harus kita jaga  bersama, ” ujarnya.  

Perondaan tersebut dilakukan dengan operasi yustisi, bekerja sama dengan SatPol PP seluruh Bali dan TNI. Selain menegakan protokol kesehatan juga buat mewujudkan masyarakat Bali yang tenteram dan tertib. (OL-3)