INDIA sekarang mencatat bertambah banyak kasus covid-19 daripada Tiongkok, tempat virus pertama kali lahir, akhir tahun lalu. Namun, nilai kematian, sebanyak 2. 872, sedang jauh lebih rendah daripada ‘Negeri Panda’ itu (4. 600). Korban tewas di Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa selalu masih jauh lebih tinggi.

India sudah memutuskan lockdown, yang diberlakukan dalam 25 Maret dan diperpanjang kurang kali, diperpanjang hingga 31 Mai.

Penguncian wilayah telah memicu krisis untuk ratusan juta warga India dengan bergantung pada upah harian untuk bertahan hidup.

Baca juga: India Perpanjang Lockdown Untuk Keempat Kalinya

Tanpa pekerjaan–dan sedikit angkutan umum–menyebabkan banyak warga migran perkotaan yang berusaha untuk kembali ke desa asal terpaksa menempuh perjalanan melelahkan dengan berjalan kaki ataupun menumpang di belakang truk.

Di Rajkot, negara bagian barat Gujarat, bertambah dari 1. 500 pekerja migran melancarkan aksi protes memblokade ustaz, merusak lebih dari selusin instrumen, dan melemparkan batu ke penjaga pada Minggu (17/5), setelah dua kereta khusus yang seharusnya membawa mereka pulang dibatalkan.

Seorang pejabat petugas di Shapar mengatakan polisi mencari jalan membubarkan migran dan beberapa petugas terluka dalam proses itu.

“Para pekerja berkumpul tidak dengan maksud menyelenggarakan kekerasan. Dua atau tiga andong dijadwal ulang, tetapi para praktisi salah paham kereta telah dibatalkan sehingga mereka melakukan kekerasan, ” ujar kepala polisi Rajkot Balram Meena, kepada media setempat.

“Kami mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam kekerasan, ” tambah Meena.

Setidaknya 23 migran tewas ketika berusaha mencapai sendi mereka pada Sabtu (16/5) kala sebuah truk terguling di India utara.

Enam belas pekerja migran wafat pada 8 Mei setelah ditabrak kereta api. Mereka tertidur pada rel saat berjalan kembali ke desa mereka setelah kehilangan order di akibat lockdown covid-19, sekapur polisi. (France 24/OL-1)