CALON Tumenggung Sidoarjo Bambang Haryo Soekartono (BHS) diminta untuk berkomitmen dengan persoalan lingkungan apabila terpilih menjadi bupati. Permintaan itu disampaikan kaum milenial saat acara diskusi bareng dengan BHS di Sidoarjo, Senin (30/11). Dalam diskusi bareng tersebut dimanfaatkan BHS untuk menyampaikan program-programnya pada hadapan kaum milenial yang biasa mahasiswa.

“Program-progam BHS-Taufiqulbar sudah kami mengaji. Saya lihat 12 program tersebut luar biasa dan tentu akan saya sampaikan ke keluarga beserta teman-teman agar tidak salah seleksi dalam Pilkada Sidoarjo ini, ” kata salah satu mahasiswa, Ebi.
 
Salah satu program yang disoroti mahasiswa, sekapur Ebi, terkait komitmen BHS dengan berbagai persoalan lingkungan. Dia meminta, komitmen prioritas BHS terkait dunia tersebut, bukan hanya saat nyalon dalam pilbup ini, tapi juga apabila nanti terpilih menjadi Bupati Sidorjo.

“Di Porong air sekarang risau. Jangankan untuk minum, mandi selalu tidak layak. Selain itu, di beberapa tempat juga banyak kotor dibuang sembarangan. Bagaimana komitmen BHS tentang ini? ” tanya Rizal, pemuda asal Porong.

Rizal juga mempersunting komitmen BHS terhadap lumpur Lapindo. Rizal yang mengaku salah mulia warga terdampak, dia tidak setuju apabila tempat itu dijadikan zona wisata. Poinnya dalam diskusi bareng tersebut, kaum milenial berharap, siapapun yang terpilih menjadi Bupati Sidoarjo bisa memprioritaskan lingkungan. Pemimpin ke depan harus bisa memilah mana kegiatan yang mengeksploitasi lingkungan serta mana yang pemberdayaan sumber daya alam.

BHS mengaku terkesan dan mengapresiasi pemahaman serta kepedulian kelompok milenial Sidoarjo terhadap lingkungan. Intinya, sirih BHS, berbagai sisi harus dipelihara agar lingkungan tetap lestari. & persoalan lingkungan itu luas, tersedia di darat, air, serta hawa.  

“Tentang lumpur misalnya, mereka tak setuju jadi tempat wisata. Serta itu sama dengan pandangan saya, sejak awal juga tidak menginginkan itu karena di sana sedang berstatus daerah bencana, semburan sedang terjadi, ” kata BHS.

Harusnya, kata pendahuluan dia, pemerintah menyiapkan standarisasi perlindungan dengan melibatkan Basarnas, BNPB, & sebagainya. Kemudian, BHS juga memperhitungkan harus ada mitigasi bencana, evakuasi plan, serta early warning 

“Di kian sejauh ini aman, jangan khawatir. Tapi tetap saja kewaspadaan kudu ada sebagai bentuk antisipasi, ” katanya.

baca juga:   422 Tenaga Kesehatan Diterjunkan ke TPS Pilkada Kota Ternate

Tentang kotor, BHS bahkan sudah punya sembrek program. Mulai dari pembuatan tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) dalam setiap kecamatan, meningkatkan kesadaran warga untuk tidak buang sampah gegabah, dan penguatan teknologi di wadah pembuangan akhir (TPA).

“Sampah juga boleh jadi peluang. Kita olah dengan rencana yang bagus, karena sampah pula bisa bermanfaat jika dikelola secara baik, ” ujarnya.
 
Pada kesempatan itu BHS juga memaparkan program seputar penanganan sungai, pantai, laut, dan mangrove sebagai upaya pelestarian lingkungan. (OL-3)