PULUHAN tokoh yang tergabung dalam Kegiatan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Provinsi DKI Jakarta mendatangi Mabes Polri, Senin (1/3). Aktivis gereja tersebut menuntut Kapolri Jenderal Petugas Listyo Sigit Prabowo segera menindaklanjuti penetapan tersangka 4 tenaga kesehatan oleh Polres Pematangsiantar. Pasalnya, 4 nakes itu dinilai bertentangan kepada prinsip pemerintah dalam memusnahkan covid-19.

Koordinator gerak laku GAMKI Richard RH mengucapkan, aksi tersebut sebagai jalan awal untuk mengevaluasi 100 hari kerja Kapolri. Menurutnya, kebijakan Kapolri belum menunjukkan langkah tegas terhadap pelaku-pelaku radikalisme di Indonesia. Seperti yang baru ini berlaku di Kota Pematangsiantar, pada mana 4 orang nakes bisa ditetapkan sebagai simpulan dengan landasan hukum yang tidak jelas.

“Kepolisian sedang bisa di intervensi oleh banyaknya massa yang demo. Kejadian ini dapat mewujudkan citra buruk kepolisian & masih jauh dari kontrak Kapolri dalam memberantas radikalisme. Kami mengecam segala wujud ketidakadilan yang terjadi pada NKRI, sebab seluruh awak negara sama dimata patokan, ” ungkapnya.

Richard membaca penetapan tersangka terhadap 4 nakes lantaran memandikan jenazah wanita yang diputus nyata korona sangat bertentangan secara prinsip kemanusiaan.

Pasalnya, perkara yang menjerat 4 nakes dengan UU Penistaan Pegangan dihentikan oleh pihak kejaksaan dengan alasan 4 nakes tidak terbukti melanggar urusan 156 A Jo Pasal 55 UU tentang Penistaan Agama. “Kami meminta pada Kapolri untuk mencopot Kapolres Siantar karena telah sembrono menerapkan seseorang menjadi simpulan, ” ujarnya.

Richard kendati meminta Polri untuk netral dalam mengatasi kasus penanganan covid-19, apalagi pihak yang ditetapkan tersangka adalah tenaga kesehatan itu sendiri.

Richard menilai tugas kepolisian seharusnya membantu pemerintah memperkuat kegiatan physical distancing melalui Susunan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang pembatasan baik berskala besar (PSBB) serta Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 9 Tahun 2020.

“Peran kepolisian yang serupa itu krusial dan signifikan untuk mencegah penyebaran covid-19. Namun yang terjadi saat tersebut Polri terlibat dalam mempidana nakes yang sedang menyelenggarakan tugasnya di masa pandemi, ” katanya.

Ia pula meminta agar kepolisian bisa menjamin keamanan dan kesejahteraan setiap nakes dalam mengarahkan tugas-tugasnya. Dalam situasi pandemi, lanjut Richard, para aparat medis adalah garda terdahulu dalam memerangi virus korona. Mereka juga berkutat dengan risiko dan nyawa taruhannya.

“Semua dilakukan untuk melayani masyarakat agar selamat. Bukannya berterima kasih atas pengorbanan mereka. Kepolisian harus melindungi petugas medis dari peristiwa serupa di kemudian keadaan, ” pungkasnya. (J-2)