PANDEMI covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda akan sudah, bahkan sebaliknya jumlah kasus membangun terus meningkat signifikan akhir-akhir itu. Tingkat kedisiplinan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan pun menjadi sorotan.

Tukang Bicara Nasional untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, melaporkan, dalam kurun 24 jam kemarin terdapat penambahan kasus positif 1. 671 jadi total menjadi 74. 018 orang. Penambahan tertinggi terjadi di Jawa Timur (409), lalu DKI Jakarta (378), Sulawesi Selatan (180), Sumatra Utara (87), Kalimantan Selatan (79), dan Jawa Barat (73). (Lihat grafik)

Menurut Yurianto, masih tingginya angka penyebaran covid-19 antara lain dikarenakan oleh banyaknya masyarakat yang tidak tertib menggunakan masker. Dia mengimbau masyarakat betul-betul disiplin saat beraktivitas. “Mari kita sadari bahwa sejak penelitian yang terus berlangsung sebab para ahli, terlihat salah mulia faktor yang menyumbang positif tertinggi ialah ketidaksiplinan menggunakan masker, ” tandasnya.

Masalah kedisiplinan juga menjadi kasus di Sulawesi Selatan. Ahli epidemologi Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin membuktikan, berdasar data, tingkat kepatuhan masyarakat Sulsel pada protokol kesehatan sedang sangat rendah, hanya berkisar 35%. “Artinya, dari 10 orang yang keluar rumah, hanya tiga yang menggunakan masker. ’’

Ketua Perhimpunan Ulung Epidemologi Sulsel itu menekankan kunci mengatasi pandemi covid-19 ialah kedudukan aktif masyarakat dalam menerapkan adat kesehatan. Dia meminta pemerintah wilayah untuk memasifkan edukasi.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengimbau warga tak menganggap enteng masalah yang ada & mutlak berlaku disiplin, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan.

Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kalsel Muslim melegalkan pula bahwa tingkat kedisplinan masyakarat menurun sehingga jumlah kasus tentu di wilayah itu terus naik. ‘’Sejak pemerintah memberlakukan new lazim, kesadaran masyarakat untuk mematuhi adat kesehatan ikut berkurang, ’’ tuturnya.

Dari Bandung, Jawa Barat, staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bony Wiem Lestari, menyerukan masyarakat kembali mendisiplinkan diri menerapkan protokol kesehatan, terlebih masyarakat ialah garda terdepan di dalam melawan covid-19. “Banyak bukti ilmiah bahwa me- makai masker serta jaga jarak dapat mencegah transmisi. ’’

Gelombang pertama

Kepatuhan dalam protokol kese- hatan menjadi harga mati karena pandemi covid-19 sedang jauh dari usai. Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono menilai pandemi di Indonesia masih berada di gelombang pertama serta bahkan belum mencapai puncaknya.

“Kita masih ada di fase gelombang mula-mula. Kita lagi naik ke teratas gunung, tetapi bisa saja semacam Jakarta, sudah naik, lalu mendarat, lalu naik
lagi. Tersebut terjadi karena arus mudik kemarin. Itu yang membuat Jakarta pelik turun, ” kata Pandu.

Pandu membaca, berdasarkan pengalaman dari negara-negara asing, gelombang kedua covid-19 akan berlaku setelah adanya pelonggaran
buat aktivitas publik. “Perilaku menjadi faktor utama risiko penularan. Kita harus memakai masker konsisten, menjaga jeda, dan jika harus aktivitas pada ruang publik harus mencuci lengah. Tangan kita ialah faktor terbesar untuk menularkan covid-19, dan mirisnya hanya 52% Indonesia yang cuci tangan dengan benar. ’’ (LN/DY/AS/HS/TS/BY/DG/X-8)