PENDIDIKAN menjadi salah utama strategi di samping penindakan dan pencegahan dalam pemberantasan korupsi. Sebagai upaya membantu pendidikan antikorupsi di madrasah tinggi, mantan pegawai senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nanang Farid Syam mewasiatkan kepada mahasiswa agar tidak menitip absen.

Menurut Nanang, praktik titip absen yang dilakukan mahasiswa merupakan peristiwa sederhana yang menjadi preseden buruk untuk mewujudkan ciri antikorupsi.

“Ketika ujian tidak menyontek atau tidak titip absen. Itu hal-hal elementer yang mungkin bisa kita lakukan dalam pembelajaran sifat, ” kata Nanang dalam webinar yang digelar Iluni Universitas Indonesia dan Kegiatan Anti Korupsi, Sabtu (27/2).

Selain itu, ia pula menyinggung praktik pemberian imbalan yang dilakukan mahasiswa ke dosennya saat momen teguran maupun skripsi. Menurut Nanang, hal tersebut sebenarnya adalah jenis gratifikasi yang menyelap dalam tindakan korupsi.

Berpikir menggarisbawahi praktik karena ia menilai pendidikan antikorupsi di dalam bangku kuliah bukan hanya sekadar pengetahuan. Untuk mewujudkan hal itu, dosen Pelajaran Antikorupsi Institut Teknologi Bandung (ITB) Nanang Puspito menitiberatkan peran dosen. Ia terpendam bahwa dosen harus menjadi role model.

Puspito mempertontonkan, saat mengampu mata pelajaran Matematika, mahasiswa akan menanggapi rumus-rumus yang ada di papan tulis. Sementara di dalam mata kuliah Pendidikan Antikorupsi, perilaku dosen lah yang dilihat mahasiswa.

“Ini kasus paling berat bagi pendidik. Maka dosen harus berkarakter antikorupsi dan harus menjunjung tinggi integritas akademik, ” jelas Puspito.

Adapun beberapa tantangan yang dihadapi pembimbing saat mengampu mata belajar Pendidikan Antikorupsi antara asing pengetahuan, keaktratifan, jarak generasi (generation gap), dan jalan teknologi.

Mengamini ucapan Puspito, dosen Fakultas Hukum UI, Aristo Pangaribuan mengatakan yang bisa dilakukan oleh para-para dosen adalah mengajar secara contoh (tech by example).

“Buat saya misalnya, jika untuk dosen, tidak bisa nebeng penulisan karya ilmiah dengan mahasiswa untuk proklamasi, membayar jurnal angka kredit. Itu hal yang memutar simple, ” tandasnya. (OL-4)