Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan penerapan kombinasi kearifan lokal dan kemajuan teknologi dapat membantu petani melindungi produksi saat menghadapi dampak mutasi iklim.

“Kombinasi kearifan lokal diperkuat teknologi, itu bagus sekali. BMKG pastikan memasok info cuaca dan petani bisa mengantisipasi, ” katanya era webinar Program Kampung Iklim Untuk Membangun Kemandirian Pangan Masyarakat dalam Sekitar Hutan oleh Universitas Brawijaya diakses dari Jakarta, Rabu (19/8).

Menurut dia, kisaran suhu udara pada periode praindustri mengalami kenaikan sistemik, melompat dalam 30 tahun terakhir. Peristiwa itu, ciri-ciri terjadi perubahan suhu udara. “Itu fakta dan berbasis data. Dan kenaikan air laut diukur benar oleh instansi terkait. Itu juga fakta, ” perkataan dia.

Fakta lain dari perubahan kondisi, katanya, adanya kejadian ekstrem, cantik hujan maupun iklim, seperti kekeringan ekstrem. Terkait dengan kejadian tersebut semua, ia menegaskan berbasis keterangan.

Dalam 15 tahun terakhir terjadi pengembangan sekitar 30 ppm sehingga melahirkan suhu naik dan curah hujan meningkat dalam kondisi ekstrem yang semakin sering terjadi.

Pohon yang ditebang menghilangkan hijau daun yang berlaku penyerap karbon dioksida (CO2) malah hilang, sehingga menyebabkan gas tersebut menjadi liar di udara.

Praktik pertanian pun, menurut Dwikorita, juga membantu emisi Gas Rumah Kaca (GRK), termasuk persawahan yang menggunakan pupuk, kotoran sapi yang melepaskan udara metan, ranting pohon yang dipangkas ikut melepaskan emisi sehingga sungguh bervariasi.

Namun demikian, menurut dia, petani juga dapat memulai melakukan penyesuaian perubahan iklim agar tetap mampu berproduksi dengan cara menggabungkan kebajikan lokal dengan penggunaan teknologi, tercatat pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) dan informasi data dari BMKG untuk mengantisipasi cuaca keterlaluan yang semakin kerap terjadi sebab perubahan iklim.

“Semua data BMKG disediakan gratis bagi masyarakat, termasuk petani, hanya perlu instal aplikasi Info BMKG, ” kata Dwikorita.

Ia mempertontonkan petani tembakau di Jawa Pusat yang memanfaatkan informasi hujan sebab BMKG untuk menyelamatkan tanamannya biar bisa tetap panen.

Dengan mengetahui terlebih dahulu prediksi hujan, kata dia, maka antisipasi untuk segera membersihkan daun tembakau dengan air suci dapat dilakukan, sehingga daun tak rusak dan petani tidak mengalami gagal panen. (OL-12)