PUTRA mahkota terbaru Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Jaber Al-Sabah, kemarin, diambil sumpahnya oleh dewan perwakilan rakyat.  

Dia sebelumnya dinominasikan oleh saudara tirinya, Sheikh Nawaf al-Ahmad al-Sabah, yang kini menjadi emir atau penguasa Kuwait. Sheikh Meshal, 80, telah lama menjabat di Departemen Pertahanan Kuwait.  

Dia bersumpah buat mempertahankan kemerdekaan dan integritas Kuwait serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.   Sebelumnya, dua anggota keluarga penguasa Kuwait mengunggah pesan di Twitter yang berjanji setia kepada Sheikh Meshal sebagai putra mahkota. Penetapan Sheikh  Meshal dinilai sebagai sikap yang konservatif.

Sheikh Nawaf mengambil alih kekuasaan setelah kematian saudaranya, Sheikh Sabah al-Ahmad, 91, pekan berarakan. Para diplomat dan analis mengucapkan karena gaya dan usianya,   Sheikh Nawaf, 83, dapat mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab kepada ahli warisnya, yang harus bertindak cepat untuk menangani masalah-masalah domestik.

Lahir pada 1940, Sheikh Meshal ialah adik dari almarhum Sheikh Sabah al-Ahmad. Dia telah menjadi pengantara kepala Garda Nasional sejak 2004. Sebelumnya, dia menjabat sebagai kepala dinas keamanan dan di departemen dalam negeri.

Berbicara kepada situs informasi Al Jazeera sebelum pengumuman itu, Dania Thafer, direktur dari Forum Internasional Teluk, mengatakan tidak laksana kandidat lain yang diduga buat peran tersebut, Sheikh Meshal tak memiliki dugaan skandal dan pertengkaran yang terkait dengannya.

“Dia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Emir Sheikh Nawaf al-Ahmad alSabah, & dipandang memiliki hubungan baik secara tetangga, seperti Arab Saudi serta Uni Emirat Arab, ” cakap Thafer.

“Dia juga orang yang mengawani almarhum Sheikh Sabah al-Ahmad ke Amerika Serikat untuk perawatan medis, ” tambahnya.

Tidak seperti negara mampu minyak lainnya di wilayah Teluk, Kuwait memiliki kehidupan politik yang lebih bebas dan kekuasaan parlemen yang besar. Pertentangan politik juga sering dibahas secara terbuka pada depan publik. (Van/X-11)