WAKIL Menteri (Wamen) BUMN Kartika Wirjoatmodjo menuturkan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) berskema dana abadi sovereign wealth fund (SWF) akan beroperasi di awal 2021.

Pembentukan lembaga itu adalah turunan dari Un­dang-Undang Cipta Kegiatan (Ciptaker) atau omnibus law.

“Dalam omnibus law, yakni pendirian Indonesia investment authority diharapkan beroperasi pada Januari 2021, ” ujar Kartika pada acara Capital Market Summit & Expo 2020 secara virtual, kemarin.

Pendirian LPI bertujuan menjadi wadah investasi dari luar negeri ke bervariasi proyek pembangunan di dalam daerah, khususnya Proyek Strate­gis Nasional (PSN).

Bintang mengatakan pihaknya kini tengah berjuang memulihkan perusahaan BUMN yang terdampak akibat covid-19.

“Cukup banyak BUMN yang terdampak serius dari covid-19. Kaya Garuda yang melakukan restrukturisasi keuangan yang fundamental. Lalu ada Waskita, Perumnas, yang mengalami penurunan penjualan yang signifikan, ” ujarnya.

Dengan adanya LPI, pihaknya berharap terjadi penambahan dan optimalisasi nilai aset di jangka panjang guna mendukung pembangunan secara berkelanjutan.

Peran IFG

Dalam kesempatan terpisah, Indonesia Financial Group (IFG) membuktikan siap menjadi salah satu penyelesaian demi memperkuat fungsi investasi di dalam ekosistem asuransi nasional.

Sebagaimana diketahui, IFJ telah resmi ditetapkan sebagai BUMN holding perasuransian dan penjaminan BUMN. Hal itu merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tarikh 2020 tentang Penambahan Penyertaan Simpanan Negara ke dalam Modal Saham PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) yang sekarang menjadi IFG.

Dengan konsolidasi, holding itu memiliki aktiva Rp72, 5 triliun per Maret 2020. Holding ini memiliki sembilan anggota, yaitu PT Asuransi Rekognisi Indonesia (Askrindo), PT Jaminan Pengaruh Indonesia (Jamkrindo), PT Jasa Makmur, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Bahana Sekuritas, PT Nyata TCW Investment Management, PT Bahana Artha Ventura, PT Grahaniaga Metode Utama, dan PT Bahana Kapital Investa.

“Sebagai BUMN holding perasuransian & penjaminan, IFG akan menghadirkan mutasi di bidang keuangan, khususnya asuransi, inves­tasi, dan penjaminan yang akuntabel, prudent, dan transparan. Dengan sinergi ini, IFG akan menjadi salah satu solusi untuk memperkuat fungsi in­vestasi dalam ekosistem asuransi nasional, terutama di dalam BUMN, ” ujar Direktur Utama IFG, Robertus BiIlitea, dalam konferensi pers maya, kemarin.

Dalam upaya untuk meleng­kapi dan memperkuat ekosis­tem IFG dibentuklah IFG Life yang menawarkan bisnis asuransi yang komprehensif sebab potensi pasar asuransi jiwa di Indonesia betul besar. Total aset industri asuransi per Juli 2020 senilai Rp703 triliun atau setara 4% dari produk domestik bruto (PDB) Nusantara.

“Kami optimistis, dengan hadirnya IFG Life dapat mendobrak pasar asuransi nasional dan memberikan manfaat bagi umum Indonesia, khususnya di bidang perlindungan jiwa, kesehatan, serta dana pensiun, dan termasuk melakukan migrasi portofolio Jiwasraya yang telah selesai direstrukturisasi (oleh pihak Jiwasraya), ” cakap Direktur Bisnis IFG Pantro Pander Silitonga.

Dalam aspek finansial, IFG mau mendukung dan melakukan review akan kebutuhan modal anggota holding, melayani monitoring dan evaluasi atas penggunaan dana. Dengan begitu, penyertaan modal negara pada IFG akan disalurkan secara tepat jumlah, waktu, dan sasaran. (Try/E-1)