LITERASI merupakan satu diantara kompetensi yang penting bagi anak, karena sering dikaitkan dengan kemampuan baca tulis. Meskipun pada kenyataannya mencakup berbagai konteks dalam kesibukan manusia.

Kondisi berliterasi siswa di masa pandemi sungguh memprihatinkan, sehingga menjadi urusan besar bagi kita. Semasa pandemi, anak-anak mulai menelantarkan buku bacaan dan beringsut ke gawai. Ditambah kanal ke perpustakaan sekolah yang mana merupakan salah satu tempat berliterasi anak juga terbatasi. Selama pandemi, anak-anak dekat tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan sekolah yang menjelma tempat favorit mereka untuk membaca.  

Rendahnya adat literasi selama pandemi dibantu oleh survei yang dilakukan oleh progam PINTAR Tanoto Foundation 2020. Berdasarkan hasil survei pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan aplikasi penilikan sekolah (APS), diketahui kalau budaya baca selama pandemi berada pada zona merah. Selama pandemi, guru kurang mengajak anak untuk membaca buku bahkan cenderung membelakangi kegiatan berliterasi.  

Bermula dari keprihatinan tersebut, aku berupaya membangkitkan kembali adat literasi selama masa pandemi covid-19. Caranya dengan merancang kegiatan untuk menghidupkan balik kecintaan membaca serta menciptakan budaya berliterasi siswa di rumah.

Program ini diterapkan pada siswa di SD Negeri Ciandong, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. SD Negeri Ciandong merupakan sekolah tempat yang terletak di Ngarai Bukit Pereng. Solusi beta terapkan ini terbilang lulus unik untuk membangkitkan budaya literasi siswa selama zaman pandemi. Cara unik itu bernama Sakuraku.  

Sakuraku merupakan kependekan dari Kepala Koin Bersama untuk Kunci. Sakuraku adalah kegiatan pengumpulan koin oleh siswa buat membeli buku bacaan jadi bahan literasi membaca pada rumah. Setiap harinya, siswa menyisihkan uang jajan itu yang kemudian dimasukkan ke dalam lumbung Sakuraku. Koin-koin yang telah terkumpul, kemudian dibelikan buku bacaan jadi bahan berliterasi mereka semasa pandemi.

Awalnya tidak mudah memang dalam mewujudkan kalender ini. Perlu adanya kedisiplinan dan komitmen dari anak untuk menyisihkan uang mereka setiap hari. Diperlukan serupa kerja sama dari orang tua untuk memotivasi bujang dalam menyisihkan uang. Di setiap hari saya ingatkan anak agar dapat konsisten mengisi lumbung Sakuraku. Saya membakar siswa, bahwa nantinya mereka dapat menciptakan perpustakaan tunggal dari buku bacaan yang dimiliki. Dengan begitu, itu tidak usah khawatir cela akses membaca selama era pandemi.  

Setiap mulia bulan sekali, lumbung Sakuraku dibuka oleh siswa. Lalu siswa menghitung perolehan kekayaan mereka masing-masing. Seluruh uang siswa kemudian dikumpulkan menjelma satu dan dibelikan tampang bacaan secara kolektif. Mereka bahu-membahu membeli buku bacaan demi terciptanya budaya menangkap dimasa pandemi. Saya menetapkan, meskipun jumlah uang dengan mereka kumpulkan berbeda-beda, wacana ini menjadi milik beriringan. Mereka boleh saling meminjam dan membaca buku miliki teman mereka. Sehingga mereka dapat membaca lebih banyak buku bacaan di rumahs.

Karena masih dalam periode pandemi, siswa membeli wacana bacaan secara daring di marketplace (situs belanja online ). Saya mengenalkan mereka cara berbelanja secara daring, cara mencari toko di marketplace , dan cara bertransaksi melalui sistem transfer. Semua ini adalah hal yang baru untuk mereka.  

Meskipun honorarium daring terlihat sederhana, ternyata banyak siswa SD Daerah Ciandong yang belum pernah melakukannya. Siswa sangat bergairah ketika diajak memilih sendi bacaan yang mereka sukai secara online . Saat berbelanja daring, mereka belajar untuk menetapkan buku bacaan yang baik, mengatur uang saat belanja, dan menghitung total belanjaan sendiri.  

Setelah itu, saya fasilitasi siswa untuk melakukan pembayaran transfer dalam agen transfer terdekat. Mencuaikan program Sakuraku, secara tak langsung siswa diajak melaksanakan berbagai kompetensi literasi dengan dimiliki dalam kehidupannya. Meliputi literasi membaca, numerasi, finansial, dan digital.

Seperti sekapur pepatah, sedikit demi kecil lama-lama menjadi bukit. Begitu pula dengan buku-buku dengan mereka miliki. Tak terasa, selama pandemi anak-anak sudah memiliki beberapa buku bacaan sendiri di rumah. Meskipun jumlahnya belum memenuhi kaki perpustakaan, tapi mereka aktif untuk terus mengumpulkan koin dan membeli buku bacaan sendiri.

Meskipun sekolah saya termasuk sekolah terpencil, jauh dari keramaian, dan keterbatasan fasilitas seperti sinyal internet, kami tetap bersemangat untuk menghidupkan budaya literasi. Siswa SD Negeri Ciandong berkomitmen untuk terus melaksanakan Sakuraku. Mereka bercita-cita mengumpulkan sebesar mungkin buku dan memproduksi taman baca di sendi mereka masing-masing. Dengan begitu, mereka dapat terus menyebarluaskan manfaat kepada massa.

Anis Septiani, Peserta Pengembangan Skill Menulis bagi Tenaga Pengajar Se-Indonesia