KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) mencuaikan Badan Penelitian dan Perluasan Perhubungan (Balitbanghub) mengadakan uji operasional seaplane atau pesawat apung dengan rute Bali menuju Gili Iyang di dalam Senin (26/4). Hal ini sebagai upaya mendukung pariwisata di Pulau Dewata.

Selain uji operasional pesawat apung, Balitbanghub juga merencanakan pendirian bandar udara perairan sebagai tempat lepas landas (take off) dan pendaratan (landing) dari pesawat apung itu.

“Kami optimis bahwa seaplane ini menjadi terobosan dengan positif untuk turut mengutarakan pariwisata Indonesia, meningkatkan perekonomian juga layanan penghubung ataupun konektivitas antar pulau, ” ungkap Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perhubungan Umar Aris dalam keterangannya, Kamis (29/4).

Umar mengatakan, uji coba pesawat apung itu telah melalui serangkaian proses penelitan dan pengembangan dengan memperhitungkan secara cermat bermacam-macam aspek mulai dari arah teknis dan keselamatan.

Kemenhub menjelaskan, pesawat apung ialah pesawat udara yang dapat mendarat di bandar udara daratan (land aerodrome) dan bandar udara perairan (water aerodrome). Seaplane yang diujikan dalam uji operasional tersebut adalah jenis Cessna Caravan Amfibi 208A yang saat ini beroperasi di Nusantara.

Dikemudikan oleh pilot Captain Yopi Priherda, pesawat itu disebut dianggap cocok sebab Kemenhub untuk digunakan dalam perairan di Indonesia. Hal ini berdasarkan pengamatan & analisis yang dilakukan oleh Balitbanghub terkait kedalaman perairan, ketinggian gelombang, serta kekuatan arus.

Gili Iyang menjelma lokasi pertama yang dipilih dalam uji operasi itu. Pulau ini terletak dalam sebelah timur Pulau Madura dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Menurut Bupati Sumenep Achmad Fauzi, Gili Iyang menjadi salah satu letak yang potensial karena dikenal sebagai pulau dengan nilai oksigen tinggi yang menjadi daya tarik utama untuk wisawatan.

“Selain melayani kebutuhan wisata, seaplane ini diharapkan dapat juga melayani hajat masyarakat sebagai sarana transportasi. Dari hasil uji coba ini kami sangat menyambut baik dan akan membantu sebaik mungkin untuk pelaksanaan ke depannya, ” ujar Fauzi.

Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Transportasi Udara Novyanto Widadi menyatakan kalau pesawat apung juga mampu digunakan untuk kepentingan search and rescue (SAR) dan patrol laut. Tapi, kini semakin banyak juga pesawat apung yang digunakan untuk pemindahan wisata di wilayah segara luas.

“Harapannya setelah pandemi ini berlalu, adanya seaplane dan bandar udara segara di Gili Iyang mampu meningkatkan kemajuan wisata pada sana, ” tuturnya.

Selain Gili Iyang, Balitbanghub merancangkan pembuatan bandara perairan & pengoperasian seaplane di daerah lainnya di Indonesia.

Lokasi yang direncanakan meliputi Kolam Toba-Sumatera Utara, Pulau Senua-Kepulauan Riau, Derawan Berau, Kalimantan Timur, Gili Trawangan dalam Lombok Utara (NTB), Labuan Bajo Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bunaken Manado-Sulawesi Utara, Wakatobi pada Sulawesi Tenggara, Pulau Widi Halmahera Selatan-Maluku Utara serta Raja Ampat-Papua Barat. (OL-8)