AKTIVIS Hak Dasar Manusia (HAM) yang tergabung di Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) meminta pengusutan kasus pembunuhan Munir Said Thalib tidak beristirahat menyusul meninggalnya Pollycarpus Budihari Prijanto. Pollycarpus, yang merupakan mantan tahanan kasus pembunuhan Munir itu diketahui meninggal pada Sabtu (17/10).

“Perlu kami tegaskan kembali meski seseorang yang terkait pembunuhan munir telah meninggal, pengusutan kasus di tingkatan seluruh pelaku pembunuhan Munir tidak bisa berhenti untuk dilakukan, ” introduksi Ketua KASUM Usman Hamid pada diskusi daring yang digelar Universitas Diponegoro, kemarin.

KASUM juga meminta petugas berwenang menyelidiki meninggalnya Pollycarpus dengan dikabarkan terkena covid-19. Menurutnya, penyelidikan atas kematian Pollycarpus patut dikerjakan secara objektif untuk menghindari syak publik. Pasalnya, Pollycarpus diyakini mempunyai banyak informasi terkait dengan pembunuhan Munir.

Direktur Amnesty International Indonesia tersebut menyebut penuntasan kasus Munir harus dilanjutkan meski Pollycarpus meninggal. Menurutnya, banyak bukti investigasi serta vonis pengadilan yang bisa dikembangkan untuk mengungkap dugaan pelaku lain di dalam kasus itu. Hingga kini, ucapnya, pelaku intelektual yang diduga merencanakan pembunuhan Munir juga belum diungkap.

“Banyak bukti dari hasil investigasi dalam tim pencari fakta dan kepolisian maupun juga dalam proses peradilan serta putusan hakim yang bisa dikembangkan untuk melanjutkan pengusutan kejadian Munir, ” jelasnya.

Direktur LBH Yogyakarta Yogi Zul Fadhli menyebut metode hukum dalam kasus Munir tidak mengalami kemajuan signifikan. Hingga saat ini, penegak hukum hanya mampu menghukum pelaku lapangan. Sementara itu, perencana dan aktor intelektual di pulih pembunuhan itu masih belum tersibak.

“Berangkat dari fakta-fakta yang ada, kita melihat akhirnya proses hukum tidak pernah tuntas. Aktor yang dipidana hanya pelaku yang melakukan proses lapangan, sedangkan yang melakukan rencana tidak dijatuhi hukuman, ” ujarnya.

Terkendala

Guru Besar Fakultas Hu- kum Universitas Diponegoro Pujiono menilai penuntasan kasus Munir akan menderita kendala lantaran meninggalnya Pollycarpus.

“Dia mendatangkan informasi yang luar biasa di terkait pembuktian. Ketika meninggal dunia, sedikit banyak ini akan merepotkan langkah membuktikan keterkaitan aktor-aktor asing dalam kasus Munir. Baik tersebut aktor intelektual yang saat itu belum terungkap atau mungkin selalu membuktikan kembali bagi mereka yang sudah bebas jika ada bukti baru, ” kata Pujiono.

Pujiono serupa mengatakan penuntasan kasus Munir bakal berhadapan dengan batas waktu. Kasus Munir sudah berjalan selama 16 tahun dan
terancam tua pada 2020 sesuai ketentuan KUHP.

“Kalau ini pidana biasa bukan sebagai pelanggaran HAM berat, berhadapan dengan masa kedaluwarsa, ” ucapnya.

Sebab tersebut, Pujiono mengatakan kunci penuntasan kasus Munir saat ini terletak pada komitmen pemerintah. Ia mengatakan aparat perlu mencari fakta atau tanda baru dan tidak terpaku dalam Pollycarpus. (P-5)