Penulis yang selalu penyair Linda Christanty, 50, meraih penghargaan dari suatu lembaga di bidang pelajaran dan kebudayaan yang berbasis di London, Inggris, The International Organization of Creativity for Peace, untuk koalisi dan dedikasinya dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan melalui hikayat dan jurnalistik.

Lembaga sponsor penghargaan tersebut diinisiasi Dr Wafaa Abdul Razzak, penulis dan penyair asal Irak. Penghargaan ini diberikan pada konferensi bahasa dan sastra, yang diselenggaraankan di London, via zoom, Kamis (4/3).  

Selain Linda Christanty, sejumlah penulis perempuan selalu memperoleh penghargaan ini, salah satunya Linda Abdel Dulang, penyair dan anggota konsorsium jurnalis Suriah. “ Apresiasi untuk Dr Hanik Mahliatussikah yang telah mengenalkan karya saya kepada publik berbahasa Arab, ’’ kata Linda di laman Facebook nya.

Linda adalah pemenang termuda lomba cerita pendek yang diselenggarakan oleh harian umum Kompas melalui karyanya, Daun-Daun Kering (1989). Ketika itu, dia baru berusia 19 tarikh dan masih menyandang kedudukan sebagai mahasiswi fakultas huruf Universitas Indonesia (kini Fakultas Ilmu Budaya/FIB UI). Cerpennya itu kemudian dimuat dalam Riwayat Negeri yang Haru: Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990 , dengan terbit pada Juni 2006.

Selepas menyandang gelar ahli, ia bekerja di sebesar media, salah satunya majalah kajian jurnalisme dan jalan, Pantau. Di majalah itu, ia bekerja sebagai redaktur selama tiga tahun (2000-2003).

Linda yang juga seorang aktivis ini,   serupa penulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Di dalam Oktober 2005, ia membina dan memimpin kantor informasi di Banda Aceh untuk memantau rekonstruksi dan rehabilitasi pascatsunami proses perdamaian pada Aceh.

Linda juga mengemukakan sejumlah karya fiksi maupun non fiksi, di antaranya Kuda Amblas Maria Pinto (2004) yang diganjar Kathulistowa Literary Award sebagai wacana fiksi terbaik, Dari Jawa Menuju Atjeh (2009) yang meraih penghargaan laporan jurnalistik terbaik dari Pusat Sopan santun, serta Rahasia Selma (2010) yang juga diganjar Kathulistiwa Literary Award. (M-4)