DENGKI adalah satu diantara dosa awal makhluk dengan dimulai iblis. Sejak pembukaan iblis tidak bisa memendam kekecewaannya ketika Tuhan mempersiapkan manusia sebagai bakal kepemimpinan (representatif) Tuhan di Dunia.

Pertanyaan paling mendasar baginya, kenapa si pendatang perdana itu mendapatkan kepercayaan begitu tinggi sebagai khalifah? Kenapa bukan malaikat atau dirinya yang ditunjuk sebagai kepemimpinan? Ia menganggap dirinya menyesatkan pantas untuk itu karena ia paling duluan dan paling taat beribadah pada Tuhan.

Karena rasa hasad (hasad) seolah iblis mengingkari bahwa keutamaan manusia menyesatkan istimewa ialah roh (ciptaan) Tuhan yang di- install   ke dalam diri manusia (Adam) yang tidak dimiliki makhluk lain.

Rasa dengki ini lah yang membuat iblis jeblok ke kemurkaan dan kutukan Tuhan. Dengki ini selalu yang membuat Qabil membantai saudaranya, Habil, dan membuatnya menyesal seumur hidup. Busuk mungkin paling banyak menjadikan manusia jatuh ke ngarai kehancuran.

Dalam hadis Nabi disebutkan ada tiga dosa dan kelemahan yang kala menyebabkan manusia jatuh ke lembah kehinaan, yaitu a) sombong, yang membuat iblis tidak mau sujud pada Nabi Adam AS; b) tamak, karena ketamakanlah yang membuat Adam makan buah terlarang di surga; c) dengki, karena kedengkianlah yang membuat Qabil membunuh Habil.

Dalam Alquran juga Tuhan SWT telah memperingatkan,   “Dan dari kesalahan orang yang dengki jikalau ia dengki. ”   (QS Al-Falaq: 5). Perbuatan dengki ini benar halus dan tersimpan pada dalam dada, namun Allah SWT Maha Mengetahui.   “Katakanlah: ‘Tuhanku cuma mengharamkan perbuatan yang ceroboh, baik yang tampak maupun yang tersembunyi’. ”   (QS Al-A’raf/7: 33).

Yang dimaksud  wa ma bathana   (perbuatan keji yang tersembunyi) dalam ayat ini yaitu dengki. Dikatakan, takutlah kepada dengki itu, sebab pengaruhnya tampak pada dirimu sebelum tampak pada orang asing yang menjadi objek yang didengki.

Dengki bisa menyedot energi positif manusia. Karakter yang mengadopsi dengki pada dalam dadanya selalu merasa sumpek dan tertekan, serta kebiasaan seperti ini mampu mengundang berbagai penyakit fisik dan psikis.

Jika busuk sudah menancap di dalam depan seseorang, sulit lagi baginya merasakan ketenangan, sulit merasakan nikmatnya makanan, dan tak bisa lagi tidur nyenyak.

Al-Ashma’i Rahmatullah ‘alaih mengucapkan, “Aku melihat seorang Badui yang berumur 120 tarikh, lalu aku bertanya kepadanya: Apa yang membuat umur Anda panjang? ” Dia menjawab, “Umur panjang sebab aku meninggalkan perasaan dengki. ”

Dikatakannya juga, bila Anda ingin lari ataupun selamat dari pendengki, sembunyikanlah urusanmu dari orang itu. Dikatakan, waspadalah jangan datang engkau berusaha dengan suram payah untuk mendapatkan mengecap simpati dan cinta sejak orang yang mendengkimu karena hal itu tidak berarti selamanya.

Ali bin Abi Thalib RA mengatakan, “Badan sehat karena mengurangi menikmati dengki. ” Banyak sedang pengalaman orang-orang arif yang mengingatkan kepada kita agar menghindari perbuatan dengki.

Jegang dan cara menghilangkan keburukan dengki di dalam diri kita ialah menyerahkan semesta urusan kita kepada Allah SWT. Kita perbanyak mengabulkan ibadah baik, wajib maupun ibadah sunat. Dengan kejujuran dan keikhlasan ibadah yang didukung oleh tawakal dan penyerahan diri secara lengkap kepada Allah SWT diharapkan mengikis habis kebiasaan iri di dalam diri.

Propaganda karier, perolehan rezeki, & keuntungan yang diperoleh saudara-saudara kita mestinya kita ikut merasa gembira dan mengikuti berbangga. Bukannya menyimpan rasa dengki. Kebiasaan dengki tersebut bisa menular kepada turunan kita. Jauhilah rasa hasad. Mari kita belajar mencuaikan bulan Ramadan, membersihkan picik dan hati kita dibanding segala kedengkian.

Barang siapa yang memelihara kedengkian pada dalam dirinya, ia benar sulit menikmati indahnya kekhusyukan dalam beribadah.