KEPALA Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono mengungkapkan alasan pihaknya tidak menahan Sadikin Aksa, tersangka fall dugaan pidana jasa keuangan, karena dinilai kooperatif.

“Penyidik menilai yang bersangkutan kooperatif sehingga sampai saat terkait tidak dilakukan penahanan, ” kata Rusdi di Mabes Polri, Jakarta, Jumat.

Sadikin Aksa telah memenuhi panggilan kedua penyidik Bareskrim Polri untuk dimintai keterangannya sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana jasa keuangan pada Kamis (18/3).

Sadikin Aksa menjalani pemeriksaan selama ten jam dan menjawab 53 pertanyaan seputar kasus yg dihadapinya oleh penyidik Bareskrim Polri.

Keponakan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kallah itu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana sektor jasa keuangan pada Rabu (10/2).

Mantan Direktur Utama PT Bosowa Corporindo diduga dengan sengaja mengabaikan dan atau tidak melaksanakan perintah tertulis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Diketahui sejak bulan Mei 2018, PT Bank Bukopin, Tbk. telah ditetapkan sebagai Bank dalam pengawasan intensif oleh OJK karena permasalahan tekanan likuiditas. Kondisi tersebut semakin memburuk sejak bulan Januari hingga Juli 2020.

Baca juga: Aturan Baru BKD Bikin Dosen Leluasa Rencanakan Karier

Dalam rangka upaya penyelamatan Bank Bukopin, OJK mengeluarkan kebijakan diantaranya memberikan Perintah tertulis kepada Dirut PT Bosowa Corporindo atas nama Sadikin Aksa melalui surat OJK nomor: SR-28/D. 03/2020 tanggal nine Juli 2020.

Surat itu berisikan tentang perintah tertulis pemberian kuasa khusus kepada Tim Technical Assistance (Tim TA) dari PT BRI untuk dapat menghadiri serta menggunakan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham Istimewa (RUPSLB) PT Financial institution Bukopin Tbk dengan batas waktu pemberian kuasa lalu penyampaian laporan pemberian surat kuasa kepada OJK paling lambat 31 Juli 2020.

“Akan tetapi PT Bosowa Corporindo tidak melaksanakan perintah tertulis tersebut, ” ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Brigjen Pol Helmy Santika.

Dalan penyelidikan, ditemukan fakta bahwa sesudah surat dari OJK diterbitkan pada 9 Juli 2020, Sadikin Aksa mengundurkan sendiri sebagai Dirut Bosowa Corporindo pada 23 Juli 2020.

Pada tanggal 24 Juli 2020, Sadikin Aksa masih aktif dalam kegiatan bersama para pemegang saham financial institution Bukopin maupun pertemuan oleh OJK pada tanggal 24 Juli 2020. “Namun tidak menginformasikan soal pengunduran dirinya sebagai Dirut PT Bosowa Corporindo, ” jelas Helmy.

Sadikin Aksa pada twenty-seven Juli 2020 juga mengirimkan foto Surat Kuasa melalui aplikasi whatsaap kepada Dirut Bank Bukopin dengan mencantumkan jabatannya sebagai Dirut PT Bosowa Corporindo.

Atas perbuatannya, SA disangka melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomor twenty one Tahun 2011 tentang Daya Jasa Keuangan dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat dua tahun serta denda paling sedikit Rp5 miliar atau pidana penjara paling lama enam tahun dan pidana denda paling banyak Rp15 miliar. (OL-4)