KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tersangka penyidiknya AKP Stefanus Robin Pattuju. Penyidik KPK pokok Polri itu disangkakan menyambut suap dari Wali Praja Tanjung Balai M Syahrial dengan modus menjanjikan pelepasan perkara. Duit yang diterima mencapai Rp1, 3 miliar.

“MS (Wali Kota Tanjung Balai) mentransfer uang dengan bertahap sebanyak 59 kali. Total uang yang telah diterima kurang lebih Rp1, 3 miliar, ” sirih Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers pada Gedung Merah Putih, Jakarta, Kamis (22/4) malam.

KPK menetapkan tiga tersangka pada kasus suap itu. Selain AKP Stefanus dan Syahrial, seorang pengacara Maskur Husain juga menjadi tersangka.

AKP Stefanus diduga telah menyambut suap Rp1, 3 miliar itu dari komitmen sebesar Rp1, 5 miliar. Uang itu diduga demi melancarkan perkara jual-beli jabatan di Pemkot Tanjung Balai biar dihentikan. AKP Stefanus menjanjikan kasus itu agar tidak naik ke penyidikan.

Baca juga:   Nama Aziz Syamsuddin Menimbrung Disebut di Perkara Uang sogok Penyidik KPK

Nama Pengantara Ketua DPR Aziz Syamsuddin turut disebut dalam kejadian suap itu. Politikus Partai Golkar itu disebut mendatangkan AKP Stepanus ke Syahrial di rumah dinasnya dalam Jakarta Selatan pada Oktober 2020.

“SRP (penyidik KPK) melakukan pertemuan dengan MS (Wali Kota) di rumah dinas AZ (Azis) Pengantara Ketua DPR di Jakarta Selatan. Dalam pertemuan itu AZ memperkenalkan SRP secara MS terkait penyelidikan pada Pemkot Tanjungbalai yang padahal dilakukan KPK agar tidak naik ke tahap pemeriksaan, ” jelas Firli.

Untuk perbuatan tersebut, Stefanus dan Maskur disangkakan melanggar Pasal 12 huruf an ataupun huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Syahrial disangkakan menyalahi Pasal 5 ayat satu huruf an atau b atau Pasal 13 Peraturan Pemberantasan Tindak Pidana Manipulasi. (OL-7)