ADANYA dampak pada ekonomi Jakarta akibat covid-19 diamini oleh Kadiv Pengembangan Ekonomi BI Jakarta Djoko Raharto yang melihat adanya pengaruh negatif pada ‘supply stock’ serta ‘demand stock’ akibat kegiatan produksi yang berhenti secara otomatis secara adanya Pembatasan Sosial Berskala Gede (PSBB) untuk menghentikan pandemi covid-19.

“Otomatis pendapatan masyarakat turun, konsumsi terdampak. Demikian juga investasi, dengan dunia usaha menunda melakukan investasi datang kondisi normal. Kemudian UMKM sungguh dampaknya itu tergantung usahanya. UMKM sektor pertanian untuk makanan siap dampaknya lebih rendah karena mereka punya alternatif pemasaran digital. Tatkala untuk kerajinan terdampak cukup mengandung padahal UMKM ini memiliki cukup banyak jumlah pekerja, ” ucap Djoko dalam webinar bertajuk ‘Optimalisasi Kredit Usaha Mikro Untuk Pulihkan Ekonomi Jakarta’ yang digelar koordinatoriat wartawan Balai Kota dan DPRD DKI Jakarta, Rabu (22/7).

Menyuarakan juga: Pemprov DKI Kurangi Biaya Sewa Kios PUMK

Karenanya, respon terhadap hal tersebut, sirih Djoko, kebijakan yang bisa diambil pemerintah dalam jangka pendek merupakan mendukung stimulus ekonomi agar dunia usaha bisa terkurangi dampaknya. Lalu, untuk jangka panjang, harus ada pemulihan ekonomi, termasuk saat itu PSBB transisi yang diharapkan bisa berjalan dengan lancar.

“Termasuk dengan menganjurkan pembiayaan kredit, juga pelatihan pemasaran dan produksi bagi UMKM, ” tuturnya.

Untuk pembiayaan kredit bagi daya oleh perbankan, tutur Djoko, menyentuh Rp1. 811 triliun dengan sejumlah Rp149 trilun di antaranya disalurkan pada UMKM dan dari Rp149 triliun ini, untuk kredit mikro berjumlah Rp113 triliun atau hampir 65%.

“Nasabah untuk UMKM di DKI itu ada 1. 351. 223 rekening dengan ada 878. 301 rekening ini adalah nasabah mikro. Meski banyak, dari sisi performa, nonperformance loan (NPL) mikro itu paling kecil hanya 2, 1%. Kalau total kredit NPL-nya 2, 74%, UMKM 3, 5%, buat mikronya 2, 1%. Jadi daerah ini cukup baik dalam prestasi pembiayaan kredit, ” tutur Djoko.

Bank DKI, selaku Bank Pembangunan Kawasan (BPD), mengatakan dalam merespon covid-19 telah melakukan langkah-langkah antisipasi terpaut dampak covid-19 terhadap portofolio pengaruh yang dimiliki, mulai bulan Januari 2020 ketika kasus covid-19 di Indonesia belum berpandemi.

Saat Maret, berbenturan dengan mulai merebaknya covid-19, Bank DKI membuat respon cepat untuk membuat peraturan perusahaan serta isyarat pelaksanaan tahapan stimulus bagi nama sesuai dengan Peraturan OJK (POJK) Nomor 11 Tahun 2020 termasuk pada UMKM.

“Pertama, kita melakukan quick check portofolio kredit yang kita miliki. Respons kedua kami melaksanakan pemetaan sektor yang terdampak membilang eksposur risiko bagi industri yang sangat terdampak covid, Ketiga, kami lakukan identifikasi per debitur berinteraksi menanyakan bagaimana dengan kondisi usahanya dan keluarganya, apakah aman sejak pandemi. Keempat, penyusunan skenario pelaksanaannya, ” kata Pemimpin Grup Kredit UMKM Bank DKI Wahyudi Dwi Irawan. (OL-1)