FILM terbaru yang diproduseri Sheila Timothy, 48, harusnya tayang pada momentum lebaran silam. Namun, karena terdampak pandemi, film berjudul Mudik itu baru  rilis pada akhir bulan tersebut.  

Namun Lala-sapaan Sheila, tidak kacau. Baginya, film dengan cerita menawan tidak lekang waktu. Mudik adalah film Sheila Timothy dan disutradarai oleh Adriyanto Dewo, yang sebelumnya juga pernah bekerja sama dengan Lala pada film Tabula Mengalami.  

Pada film ini ide & naskah berasal dari Adri. Taat Lala, Adri punya kekuatan di dalam bercerita dan punya keandalan di dalam menggarap film.  

“Adri selalu punya kekuatan cerita yang sangat relate, dengan siapa saja yang nonton. Tentang kehidupan, perjalanan. Aku serupa memuji untuk para cast & kru, serta chief kru, yang luar biasa di film itu. Susahnya bikin film road movie, selalu ada tantangannya, baik dibanding bujet, infrastruktur, ” kata Lala yang merupakan Chief Operating Officer dan Produser Lifelike Pictures pada konferensi pers virtual, Senin, (24/8).

Hidup Mudik diperankan Putri Ayudya, Ibnu Jamil, Asmara  Abigail, dan Penguasaan Pratama. Sebelum rilis di Indonesia pada (28/8), film ini sudah tayang di beberapa festival global, seperti di International Film Hajatan &   Awards (IFFAM) ke-empat Macau akhir tahun lalu, & CinemAsia Film Festival Maret suram.

“Mudik bukan saja perjalanan fisik kembali kampung, tetapi ada spiritual journey. Makanya judul Mudik itu punya dua konotasi cerita dari bervariasi sisi. Adri sudah share periode banget cerita ini, enggak lama selesai dari Tabula Rasa. Itu cerita yang unik dan di dalam, ” kata Lala.

Lifelike Pictures digandeng rumah produksi Relate Films setelah tahap pascaproduksi dan untuk promosi film. Sebelumnya, naskah film itu juga memenangkan script room for feature film development programme sebab British Council pada 2016.

“Ketika filmnya jadi, dan saya diajak, terseret apalagi setelah melihat rough cut -nya. Beta bisa melihat craftsmanship si sutradara. Adri memang di Tabula Mengecap pun juga punya sentuhan spesifik, bagaimana dia punya  kekuatan menuturkan karakter yang sedikit, tetapi menjadikan, ” sambung Lala.

Meski film tersebut awalnya diproyeksikan tayang di jaringan bioskop pada momentum lebaran, film ini baru rilis di Nusantara pada akhir Agustus ini di platform OTT Mola Tv. Namun, bagi Lala, hal itu tak berpengaruh besar.

“Kita balik lagi ngomongin konten. Film bagus dengan cerita yang bagus tidak lekang sebab waktu. Kami merasa karya indah tidak tergantung momentum, bukan berarti ini yang harusnya keluar lebaran kemarin lalu jadi problem. Pegangan bukan sekadar pulang kampung, tetapi spiritual
journey, bisa mendaftarkan karakter di dalam cerita ini, gaya Adri itu character driven. ”

Alternatif

Bagi Lala, industri film beberapa tahun belakang menemui perkembangan. Salah satunya, semakin bertumbuhnya platform OTT yang beroperasi dalam Indonesia.   Hal itu kendati memengaruhi distribusi film.

“Ada pergeseran. Pengembalian modal bikin film bukan sekadar dari bioskop, ada dari free to air, ancillaries seperti dalam pesawat, dan tiga tahun belakangan ini OTT semakin gencar menghunjam di Indonesia, baik dari lokal maupun luar  negeri juga. ” 

“Platform OTT jadi alternatif buat kami untuk orang-orang fi lm mampu bertemu dengan audiens. Memang taat saya kepuasan menonton di adang-adang lebar, di bioskop tidak bisa digantikan. Namun, OTT menjadi alternatif juga yang memudahkan buat orangorang yang sibuk, bisa nonton dari  mana saja. ” (H-3)