PEMERINTAH Kota Makassar, Sulawesi Selatan menegaskan tidak ada pelonggaran aturan dalam pemberlakuan Penyekatan Sosial Berskala Besar (PSBB) periode kedua yang berlangsung 8-22 Mei mendatang. Semua sudah diatur di dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) Cetakan 22 Tahun 2020 tentang PSBB.

Situasi itu ditegaskan juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tanah air Makassar, Ismail Hajiali. Dijelaskan, satu diantara yang diatur dalam Perwali tersebut adalah pembatasan penggunaan transportasi untuk pergerakan orang dan barang. Biar demikian kata Ismail tetap ada pengecualian untuk pergerakan orang atau barang, yaitu untuk pemenuhan kbutuhan pokok dan kegiatan yang diperbolehkan selama PSBB.

“Yang dimaksud dikecualikan dibanding penghentian sementara kegiatan pergerakan karakter sebagaimana dimaksud yaitu untuk organ bermotor pribadi, serta angkutan ijmal, ” sebut Ismail.

Untuk anggkutan umum, sopir dan penumpang harus memakai masker, serta jumlah orang di maksimal 50 persen, dan suhu badan maksimal 38 derajat celcius. Demikian pula pengendara motor yang dilarang berboncengan, serta harus memakai gunakan masker dan sarung lengah.

“Itu juga berlaku untuk angkutan berbasis aplikasi. Termasuk angkutan orang secara kendaraan bermotor umum, seperti kapal penyeberangan air antarpulau, juga diwajibkan untuk mengikuti ketentuan membatasi total orang maksimal 50 persen dan ada jam operasional, ” seruan Ismail, Sabtu (9/5).

Angkutan kota (angkot) atau yang di Makassar dikenal dengan nama pete-pete sudah menetapkan tersebut. Hal itu diceritakan seorang warga Kelurahan Bontoduri, Makassar bertanda Nawar, 60.

“Seorang Sopir pete-pete mengatakan jika hanya bisa mengangkut lima penumpang dari yang biasanya dia bisa mengangkut 10 orang sekadar jalan, ” cerita Nawar. (R-1)