SEJUMLAH pemuda terlihat sibuk di sebuah ruangan di salah satu tanah medan di Desa Kebocoran, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Mereka mencermati satu per satu kampung magot yang ditata sedemikian rupa, sehingga tetap bersih dan tak berbau. Sebagian besar telur sudah mulai menjadi magot kecil. Magot atau belatung itulah yang nantinya dapat dibudidayakan menjadi magot dewasa untuk pakan ternak atau dilanjutkan jadi lalat hitam atau black soldier fly (BSF).

“Magot ini pakannya adalah sampah-sampah organik. Dengan serupa itu, budidaya magot sebetulnya juga menjadi alternatif untuk mengatasi persoalan kotor khususnya organik. Sehingga di sini ada tiga ruangan yang digunakan sebagai tempat budidaya. Ruangan baru adalah peralatan pencacah sampah organik yang digunakan untuk pakan magot. Ruangan kedua adalah rumah magot dan ketiga rumah lalat, ” jelas satu diantara petani muda sebagai pengelola budidaya magot, Agung Pamuji pada Sabtu (28/11)

Agung mengungkapkan kalau Kelompok Budidaya Magot Makmur Lestari, kini tengah membudidayakan magot dan lalat hitam sekaligus. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga siklus hidup BSF.  

“Memang, yang dibutuhkan adalah magot. Karena magot yang menyesatkan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sendiri atau dapat langsung dijual. Tetapi, untuk menjaga siklus buatan magot,  
maka diperlukan budidaya lalat BSF. Kalau tak, maka siklusnya tak akan aman dan mandek, ” jelasnya.

Saat sekarang, kelompoknya mengembangkan 100 gram telur BSF dan 10 kg pre pupa. Nantinya, 100 gram telur BSF akan dapat menghasilkan dua kuintal magot. Saat sekarang, katanya, harga magot mencapai Rp5 ribu hingga 7 ribu per kg. Budidaya dari telur manjadi magot tidak terlalu lama hanya 12-14 hari saja.  

“Namun demikian, awak tidak akan menjual magot terlebih dahulu, karena harus mengejar lalat. Sehingga nantinya tidak akan dijual dan dilanjutkan ke pupa dan menjadi BSF. Hal ini penting, untuk menjaga siklus supaya terus berkelanjutan budidayanya, ” ujar tempat.

Ia mengatakan, budidaya magot memang betul bermanfaat, tidak saja mampu mengurangi sampah organik, namun juga bisa menekan konsumsi pakan pabrikan. Pokok, magot dapat menggantikan pakan buat ternak maupun ikan. Di sisi lain, limbah atau bahan organik yang telah diurai oleh magot dapat dimanfaatkan untuk pupuk.  

“Bahan organik yang telah diurai dikenal sebagai kasgot. Untuk yang biasa langsung dapat pupuk dan tirta limbahnya difermentasi menjadi pupuk berhenti. Kalau di sini dipakai untuk 
pupuk tanaman hortikultura. Di negeri desa yang telah disewa ini, memang dikembangkan untuk pertanian harmonis, ” ungkapnya.

Pendamping kelompok dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Andi Ali Said Akbar, mengatakan kalau budidaya magot berawal dari pemikiran mengenai pengelolaan sampah.

“Sekitar setengah tahun yang lalu, ada masalah kotor di Banyumas. Sampah banyak dengan tak tertampung di tempat penyingkiran akhir (TPA). Karena itulah, ana mengajukan bantuan teknologi tepat berjalan untuk pengolahan sampah yang dipadu dengan budidaya magot ke Departemen Riset dan Teknologi (Ristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).   Dan kami menggandeng   para-para pemuda di Desa Kebocoran, ” jelas Ali.

Ia mengatakan pengolahan kotor dengan teknologi terapan serta dipadukan budidaya magot, maka memiliki jumlah tambah yang luar biasa.

“Mesin pencacah kotor organik bantuan Kemenristek ini memiliki kemampuan mencacah hingga 1 ton. Sampah organik yang telah diproses menjadi pakan dari magot. Sesudah menjadi magot dewasa dapat digunakan untuk pakan ternak dan ikan. Jelas, hal itu akan mengurangi biaya pembelian pakan yang cukup besar. Bahkan, limbah atau hasil penguraian bahan organik oleh magot dapat dijadikan bahan pembuatan gemuk organik, ” Ali.

baca pula:   Barito Kuala Bagian Pengembangan Food Estate

Menurutnya, pengembangan kemudian adalah memberdayakan di tingkat panti tangga. Sebab, pada awal sosialiasi, ada 25 yang mengikuti.  

“Sebagai motornya ada tiga orang, tetapi nantinya akan ditularkan ke umum agar dapat membudidayakan di tingkat rumah tangga. Di sini, bisa diolah sampah organiknya dan bisa didistribusikan ke masing-masing rumah nikah menjadi pakan magot. Kalau sudah berjalan, tentu hal ini akan menambah pendapatan warga. Di sisi lain, warga juga diedukasi untuk  memilah sampah. Sampah organik tidak dibuang begitu saja, melainkan sanggup dimanfaatkan sebagai pakan magot, ” paparnya. (OL-3)