MAJELIS Hakim Pengadilan Negeri Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjatuhi ketentuan hukuman mati kepada empat warga negara asing (WNA) asal Timur Tengah dan sembilan WNI karena benar bersalah menyelundupkan 403 kg sabu-sabu ke Indonesia melalaikan Sukabumi.

“Vonis yang dijatuhkan hakim kepada 13 terdakwa yang merupakan pengedar sabu-sabu jaringan internasional ini cocok dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Daerah Kabupaten Sukabumi yang menuntut mereka hukuman mati, ” kata Humas PN Cibadak Muhammad Zulqarnain di Sukabumi, dikutip dari Antara.

Menawan hakim menilai terdakwa besar WNA yakni Husain serta Samiulah terbukti melanggar pencetus 114 ayat UURI Cetakan 35 tahun 2009 mengenai Narkotika dan telah melangsungkan tindak kejahatan dengan menjadi perantara penyelundupan narkotika bangsa I (sabu-sabu).

Kemudian untuk dua terdakwa WNA yang lain juga melanggar pasal 114 ayat 2 jo UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencucian Uang. Sementara sembilan WNI lainnya selalu melanggar pasal 114 ayat 2.

Untuk sembilan terpidana mati yang merupakan WNI mempunyai peran  masing-masing dalam upaya menyelundupkan sabu-sabu senilai ratusan miliar rupiah ke Indonesia melalui perairan bahar Sukabumi.

Baca juga:   Razia Ikatan di Wamena Temukan Motor Bodong dan Senjata Tajam

Adapun tugas WNI tersebut seperti menjadi perantara, pemimpin kelompok kecil dan suruhan yang bertugas mengangkut sabu-sabu hingga masuk ke provinsi Indonesia. Dengan demikian, vonis hukuman mati yang dijatuhkan kepada 13 terpidana tersebut membuktikan bahwa negara tak main-main dalam peredaran kelam narkoba.

Sementara, satu tersangka lainnya yang merupakan WNI berjenis kelamin wanita tak dijatuhi hukuman mati, tetapi divonis terlibat dalam pembilasan uang atau melanggar UURI 8/2010.

Dihubungi secara terbelah, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi Bambang Yunianto  menerima baik vonis hukuman stagnan yang dijatuhkan manjelis ketua karena sesuai dengan syarat JPU. Sedangkan satu  karakter dengan ancaman UU TPPU divonis lima tajun penjara.

“Dari hasil sidang vonis yang digelar secara daring dengan menghubungkan tiga tempat berbeda, jaksa menyatakan pikir-pikir, terdakwa atau penasehatnya juga menyatakan pikir, ” katanya.

Ia menambahkan untuk 4 WNA terpidana mati, sejak awal menjalani sidang, bagian kedutaan juga menghadirkan juru bahasa. Mereka kini masih ditahan di Lapas Warungkiara Kabupaten Sukabumi. (Ant/OL-7)