APA kabar sobat Medi? Sebelumnya, Medi ucapkan selamat sungguh buat kalian yang sudah melalaikan proses belajar di tahun prinsip lalu.

Kini, tahun ajaran baru telah di depan mata. Meski banyak di antara temanteman yang masih hendak tetap belajar di  rumah, khususnya yang tinggal di zona abang, oranye, dan kuning penyebaran virus korona (covid-19), tetap harus watak belajar di level baru, sungguh!

Lakon semangat pula yang terlihat dibanding teman kita bernama Nugroho Novyan Iswiyanto. Iyan–panggilan akrabnya–naik ke kelas 9 di SMP Negeri 2 Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Sedang.  

Hingga saat ini, Iyan mengaku belum mendapat kejelasan mengenai metode belajar di tahun ajaran mutakhir. Mengingat  beberapa daerah Kabupaten Semarang yang sempat masuk zona merah, bisa jadi proses belajar di panti berlanjut. Namun, Iyan yang memperoleh nilai IPA yang cukup bagus di rapornya sudah berancang-ancang semakin meningkatkan  nilai. “Saya akan menggunakan buku dari sisa tahun petuah kemarin.

Saya ingin nilai saya bertambah baik dari kemarin dan mau dapat peringkat kelas agar nanti bisa melanjutkan ke sekolah yang baik bersama guru dan teman-teman baru, ” kata pehobi gerak ini kepada Medi, Kamis (2/7).

Hampir sama seperti Iyan, teman kita dari SD Negeri 2 Kadirejo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yakni Citra  Anggun Setiarini juga pokok belajar melalui televisi. Hanya, dalam tahun ajaran lalu, ia juga kerap berlatih dengan mengisi perkara di LKS dan menggambar.

Nilai Baik rata-rata B di rapor. Jelita lebih suka belajar bahasa Nusantara karena ia senang membuat puisi dan pantun. Untuk mempersiapkan tarikh ajaran baru, Anggun  sudah membeli buku. “Semoga di tahun petuah baru nanti saya bisa nilai yang lebih baik karena saya ingin masuk SMP Al-Azhar Salatiga, ” kata teman kita yang  sekarang kelas 6 itu.

Rencana untuk meraih nilai yang lebih baik juga ditunjukkan teman-teman kita dari SD Negeri 2 loposepuluh, Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.   Mereka ialah Laura Ade Maulidiva, Nabila Riska Amanda, & Novalia Agustina Pratama Putri dengan sekarang juga
belajar di kelas 6.

Laura lebih suka serampangan pelajaran yang sifatnya tematik & ingin meraih peringkat 10 luhur di tahun ajaran baru. Tengah itu, Nabila dan Novalia, sama-sama ingin menjadi juara kelas dan memperbaiki nilai yang kurang  bagus tahun lalu.

Menurut Laura dan Novalia, belajar yang giat ialah kunci sukses untuk meraih nilai dengan memuaskan. Nabila menambahkan, di tahun ajaran ini seorang siswa selalu perlu beradaptasi dengan lingkungan pertama.

“Saya lebih suka belajar IPA karena mempelajari tentang alam dan khalayak hidup, ” imbuh Nabila yang kelak ingin  menjadi dokter itu.  

Semangat untuk belajar di sekolah baru juga ditunjukkan teman kita, Aura Activea. Meski di tarikh ajaran lalu teman kita dengan hobi bersepeda ini terkadang mengalami  kesulitan memahami beberapa soal yang kurang penjelasan sebelum adanya pemberlakuan bejalar di rumah, hasil rapotnya tetap memuaskan.

Maka dari itu, ia selanjutnya ingin kembali meraih prestasi di sekolah baru. “Saya mau menjadi siswa berprestasi di SMP Negeri 3 Batang, ” kata teman kita  yang juga suka membaca buku itu.

Kemahiran baru

Proses belajar-mengajar di kala pandemi ini rupanya juga  menjelma pengalaman baru bagi ibu serta bapak guru lo sobat  Medi! Ibu guru SD Negeri 3 Karangasem Utara, Batang, Jawa  Tengah, Marellia, mengaku pada mulanya tak menyangka akan merasakan sistem pembelajaran seperti ini. Meski sempat tersedia kendala, semua itu bisa segera diatasi dengan bantuan para orangtua dan antusiasme belajar siswa.

Ibu Marellia tetap bersyukur, ia dan rekan-rekan guru  dapat tetap memberikan kursus dengan baik meski dari  sendi. Ia juga mengaku mengisi zaman dengan memperbarui ilmu dan kemahiran mengajar sebagai bekal tahun aliran yang akan datang.

“Syukur alhamdulillah sesudah mengikuti pelatihan, meskipun secara daring, kami yakin melalui media-media pembelajaran daring, melalui video pembelajaran, pada tahun ajaran baru ini kami lebih siap untuk mengajar di situasi yang genting sekalipun. Insya Allah, ” tutur Ibu tutor
kelas 6 itu, Rabu (1/7).

Hal senada juga diungkapkan Bapak Guru SD Negeri 2, Kloposepuluh, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, Wanda Rizky Febrianto. Menurut bapak instruktur kelas 6 itu, sarana dan prasarana memang sangat penting untuk menjembatani proses  pembelajaran antara guru, orangtua, dan siswa. Maka lantaran itu, akan menjadi kendala tersendiri jika ada siswa dan  orangtua yang tidak memiliki gawai ataupun tidak melek teknologi informasi (TI).

“Persiapan mengajar untuk tahun ajaran baru adalah edukasi guru, edukasi anak, dan edukasi orangtua perihal  kegunaan TI dan mulai mencoba pengajaran berbasis TI. Selain itu, serupa menyiapkan materi, menyiapkan protokol  kesehatan tubuh di sekolah, dan menyiapkan sarana yang mendukung kelancaran pembelajaran, sesuai media daring  berupa video teleconference (Zoom, Google Meet), tes online (Google Form, Quizizz), dan komunikasi aktif online (grup Whatsapp), ” tutur guru yang akrab disapa Pak Wanda itu. (M-1)