YAYASAN Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta PLN untuk membuka kanal pengaduan seluas-luasnya terhadap masyarakat yang mengalami lonjakan tagihan (billing shock) tarif listrik.

“Pasalnya, YLKI banyak menerima keluhan dari konsumen yang mengalami kesulitan saat mau melaporkan kasusnya via call center 123, atau akses lainnya. Itu menunjukkan kanal pengaduan yang tersedia belum optimal mewadahi keluhan/pengaduan konsumen, ” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam fakta persnya, kemarin.

Selain itu, YLKI serupa meminta PLN untuk melakukan sosialisasi kepada konsumen terutama di tempat yang banyak mengalami masalah sewarna, sebagaimana terjadi pada edisi April-Mei 2020. Dengan demikian, masyarakat memafhumi duduk persoalan dan musabab dengan terjadi, plus mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Adapun untuk konsumen, YLKI meminta pelanggaan untuk segera mengeluh ke call center PT PLN bila mengalami lonjakan tagihan. Pelaporan bisa dilakukan via call center 123 atau kanal media sosial yang dimiliki PLN.

“Sebelum melaporkan, sebaiknya konsumen melakukan pengecekan ulang terlebih dahulu terhadap kewajaran pemakaiannya, secara melihat pemakaian jumlah kwh terakhir dengan jumlah kwh bulan sebelumnya, ” ujar Tulus.

“Sebab, selama berlaku dan belajar dari rumah, biasanya pemakaian energi listrik konsumen menikmati kenaikan, ” tambahnya.

Sebelumnya, konsumen PLN kembali dikejutkan dengan melonjaknya tagihan listrik Juni 2020. Bahkan tersedia yang mengalami kenaikan listrik bertambah dari 200%.

Menurut Direktur Niaga serta Manajemen Pelanggan PT PLN (persero) Bob Saril, kenaikan tagihan tersebut merupakan dampak dari penghitungan rata-rata pada tiga bulan terakhir masa penerapan pembatasan sosial berskala tinggi (PSBB).

“Tidak ada kenaikan tarif elektrik, tetapi memang ada kenaikan konsumsi listrik selama kebijakan PSBB yang dihitung menggunakan skema
rata-rata tiga bulan sebelumnya, ” prawacana Bob dalam diskusi virtual pada Jakarta, Sabtu (6/6).

Bob juga mengutarakan untuk meringankan beban pelanggan keluarga tersebut, perseroan memberikan relaksasi pada 1, 93 juta pe-
langgan yang berpotensi mengalami lonjakan tagihan listrik. Relaksasi tersebut di bentuk pencicilan penbayaran kenaikan dakwaan listrik. “Kriteria pemberlakukannya diberikan untuk kenaikan tagihan 20% ke untuk, ” ujarnya.

PLN juga terus melaksanakan pengecekan ulang terhadap pelaksanaan pemberian subsidi pembebasan tagihan listrik untuk pelanggan golongan tertentu. (Iam/X-10)